Berdampak | 08 July, 2026

Universitas Bakrie dan UiTM Malaysia Bahas Ketahanan Informasi, Komunikasi CSR, dan Komunikasi Politik

Jakarta, Juli 2026 - Universitas Bakrie melalui Program Studi Ilmu Komunikasi, Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, dan Program Studi Ilmu Politik berpartisipasi dalam kegiatan International Community Service: University Social Responsibility (USR) Exchange bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia pada awal Juli 2026.

Kegiatan internasional ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara Universitas Bakrie dan UiTM Malaysia dalam membahas isu komunikasi, politik, tanggung jawab sosial universitas, serta tantangan masyarakat di ruang digital. Forum ini menghadirkan sejumlah dosen Universitas Bakrie, yaitu Octaviniant Aspary, S.I.K., M.Si., Mirana Hanathasia, S.Sos., M. Media Prac, Dr. Mochammad Kresna Noer, S.Sos., M.Si., dan Asmiati Abdul Malik, S.I.P., S.Kom., M.A., Ph.D. sebagai narasumber dan fasilitator.

Keterlibatan tiga program studi ini menunjukkan pendekatan lintas disiplin Universitas Bakrie dalam membaca persoalan sosial kontemporer. Isu komunikasi digital, praktik komunikasi CSR, pengalaman pemangku kepentingan dalam kegiatan global, hingga komunikasi politik dalam situasi krisis menjadi bagian dari pembahasan yang dibawa dalam forum tersebut.

Dalam sesi mengenai komunikasi digital, Octaviniant Aspary membahas pentingnya ketahanan informasi melalui kecerdasan digital. Materi ini menekankan bahwa masyarakat tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga terus mengambil keputusan digital: mengevaluasi, mempercayai, membagikan, dan bertindak berdasarkan informasi yang diterima.

“Di ruang digital, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga membantu masyarakat mengevaluasi informasi sebelum dipercaya, dibagikan, dan dijadikan dasar tindakan. Digital intelligence menjadi kompetensi komunikasi yang penting agar masyarakat lebih tangguh menghadapi misinformasi dan banjir informasi” ujar Octaviniant.

Melalui materi tersebut, peserta diajak melihat bahwa kecerdasan digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan berkomunikasi secara bertanggung jawab di ruang digital. Dalam konteks ini, komunikasi berperan penting untuk membangun literasi, mengelola perilaku digital, serta membantu masyarakat memilah informasi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari perspektif komunikasi CSR, Mirana Hanathasia menyoroti pentingnya model komunikasi dalam program inovasi sosial berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan program sosial tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan kegiatan, tetapi juga oleh cara organisasi membangun relasi, mendengar kebutuhan masyarakat, dan menyampaikan manfaat program secara tepat.

“Dalam program inovasi sosial, komunikasi CSR tidak cukup berhenti pada publikasi kegiatan. Yang penting adalah bagaimana organisasi mendengar kebutuhan masyarakat, membangun kepercayaan, dan memastikan manfaat program dapat dipahami serta dirasakan secara berkelanjutan” ujar Mirana.

Sementara itu, Dr. Mochammad Kresna Noer membahas pentingnya pengalaman pemangku kepentingan dalam kegiatan berskala global. Ia menekankan bahwa kegiatan internasional perlu dilihat bukan hanya dari sisi penyelenggaraan acara, tetapi juga dari kualitas pengalaman peserta, mitra, dan komunitas yang terlibat.

“Kegiatan global tidak hanya dinilai dari kelancaran acara, tetapi juga dari pengalaman para pemangku kepentingan. Ketika peserta, mitra, dan komunitas merasa dilibatkan, loyalitas terhadap agenda kolaborasi akan tumbuh lebih kuat” ujar Kresna.

Dari perspektif Ilmu Politik, Asmiati Abdul Malik membahas relasi antara pragmatisme global, idealisme nasional, dan komunikasi krisis dalam konteks administrasi pemerintahan. Materi ini memperlihatkan bagaimana komunikasi publik berperan penting dalam membentuk persepsi, menjaga kepercayaan, dan menjelaskan posisi institusi di tengah dinamika politik.

“Dalam situasi krisis komunikasi, pemerintah dan institusi publik harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan tekanan global. Pesan publik perlu jelas, konsisten, dan sensitif terhadap persepsi masyarakat” ujar Asmiati.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dirancang secara partisipatif melalui diskusi interaktif, tanya jawab, group brainstorming, analisis kasus, presentasi kelompok, serta umpan balik dari fasilitator. Format ini memberikan ruang bagi peserta untuk menghubungkan konsep akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Universitas Bakrie menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi internasional, memperluas jejaring akademik, dan menghadirkan kontribusi keilmuan yang berdampak. Kolaborasi bersama UiTM Malaysia diharapkan dapat membuka peluang kerja sama lanjutan dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kegiatan akademik lintas negara.

«Back to News